Cathy Lengkong Bangun Sekolah di Gunung Sampah

Cathy Lengkong Bangun Sekolah di Gunung Sampah

Cathy Lengkong Bangun Sekolah di Gunung Sampah
Kawasan pembuangan sampah Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, pada September lalu sangat terik. Udara kering dan debu kerap beterbangan tertiup angin kencang yang datang tiba-tiba. Di sekeliling kawasan, ‘gunung-gunung’ sampah berdiri menjulang, mengumbar bau tak sedap hingga radius puluhan meter.

Cathy Lengkong

Cathy Lengkong

Tetapi pada satu lapangan, sebuah bangunan sederhana berdiri. Plang penandanya berbunyi “Sekolah AOC-IPI”. Itu sekolah untuk anak para pemulung.

AOC adalah kependekan dari Alpha-Omega Center, wadah yang didirikan oleh para tenaga kerja Indonesia di Australia – yang sukses dan tergerak untuk berkegiatan sosial. Sementara, IPI merupakan kependekan dari Ikatan Pemulung Indonesia, organisasi untuk para pemulung yang berdiri pada 1991. Perempuan yang menjadi ketuanya adalah Cathy Lengkong.

Dahulu, Cathy hidup di dunia perfilman. Ia turut membintangi beberapa judul film, di antaranya Tandes (1984), Surga Dunia di Pintu Neraka (1983) dan Mendung Tak Selamanya (1982). Perjalanan kariernya yang saat itu sedang di penghujung, berbelok drastis pada 1991, ketika Cathy didatangi sekelompok pemulung. Entah bagaimana, seorang pemulung yang tahu tentang Cathy, menggalang massa. Bersama-sama, mereka mendatangi Cathy di kantornya di Jalan Kalilio, Senen, Jakarta Pusat.

Mulanya, Cathy tidak paham maksud kedatangan mereka. Cathy tidak mengerti soal pemulung, ia bahkan takut kepada pemulung. Tetapi apa yang mereka sampaikan mengejutkan. Mereka bilang, “Tolong, Bu. Kami minta Ibu jadi ketua kami. Tolong dirikan organisasi pemulung. Dekatkan kami dengan pemerintah. Jangan kami diusir-usir seperti capung.” Cathy meneteskan air mata. Ia tahu, pada masa itu aparat sedang gencar ‘membersihkan’ pemulung.

Usai pertemuan, Cathy mulai bergerak, berinisiatif menemui beberapa kawan untuk berkonsultasi soal rencana pembentukan organisasi. Respons mereka sangat positif. Tak hanya itu, ia juga mempelajari seluk-beluk organisasi, termasuk bagaimana merancang anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Di sisi lain, Cathy aktif berdialog dengan para pemulung untuk mengorek tujuan mereka berorganisasi. Cathy takut mereka diperalat oleh kelompok tertentu untuk tujuan politik. Namun setelah berkali-kali diskusi, Cathy tiba pada kesimpulan bahwa tujuan mereka murni: memperjuangkan hak-hak pemulung.

Pemulung bukan gelandangan dan pengemis. Mereka manusia biasa yang mencari nafkah dengan bekerja memungut sampah. Cathy berpendapat, “Mereka bukan mesti dikasihani, tetapi perlu diperhatikan.” Tahun itu juga, IPI resmi berdiri. Hari demi hari, anggotanya kian bertambah. Saat ini, untuk wilayah Jabodetabek saja, anggotanya mencapai 400.000 orang. Di Bantar Gebang sendiri ada sekitar 10.000 orang. Cathy Lengkong pun punya julukan “ibu pemulung”.

Lahan tempat sekolah itu berdiri merupakan milik IPI. Sebelum ada bangunan, mereka mendirikan gubuk bagi anak-anak untuk berkumpul, belajar menyanyi atau mengaji. Tetapi, gubuk terlalu ringkih. Ia kerap roboh diterpa angin puting beliung. Mereka membangun hanya untuk roboh kembali di kemudian hari. IPI mengidamkan bangunan paten untuk dijadikan sekolah.

AOC sudah mendengar tentang IPI dan tergerak membantu kegiatan mereka. Namun pada waktu itu Cathy tidak mau menerima uang mereka. Baginya, bantuan berupa uang bersifat temporer. Ia pun mengatakan bahwa jika AOC hendak membantu, “Tolong bantu dirikan sekolah saja.” Kerja sama pun terjalin. AOC menggaet para donatur untuk pembangunan sekolah. Setelah bangunan berdiri, IPI menyematkan AOC dalam nama sekolah mereka, sebagai ucapan penghargaan atas bantuan mereka.

Bangunan itu bercat kuning – kini sudah kusam dan pudar. Tentu saja, tidak ada kemewahan macam AC. Ia memiliki empat ruang. Satu untuk ruang guru, sisanya dipakai untuk kelas-kelas. Biasanya, pintu ruangan dibiarkan terbuka untuk mengalirkan udara segar, sekaligus mengurangi panas dan pengap. Namun akibatnya, lalat-lalat kerap menyusup masuk.

Sekolah AOC-IPI dikepalai oleh Pris Polly D. Lengkong, anak kedua Cathy, sarjana ekonomi yang juga aktif dalam IPI sebagai sekretaris jenderal. Polly mengatakan, ada 191 siswa terdaftar di sekolah. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu kelas pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar, serta kelompok belajar (Kejar) paket A, B dan C. Semua kelas gratis. Untuk jadwal, Senin sampai Jumat sekolah diisi kelompok PAUD dan SD, sementara Minggu waktunya siswa-siswi Kejar belajar. Sekolah hanya libur setiap Sabtu.

Kini, memasuki tahun kedua berdirinya sekolah, Cathy dan Polly sudah memahami banyak tantangan dalam menjalankan proses belajar-mengajar. Tantangan pertama soal guru. Untuk menangani 191 siswa, sekolah mereka hanya punya empat guru – termasuk Polly.

“Tadinya ada enam guru, tetapi dua baru keluar karena mereka pindah rumah,” tutur Polly. Guru-guru itu kebanyakan berasal dari warga sekitar juga. Mereka digaji secara pas-pasan, dan biasanya punya pekerjaan sampingan di luar jam mengajar.

Tantangan kedua adalah soal kultur setempat. Siswa-siswi muda yang belajar di sana kebanyakan juga pemulung. Pagi mereka sekolah, sore mulung – atau sebaliknya. Tak heran jika beberapa orang tua siswa lebih lebih suka mereka cari uang ketimbang sekolah. Padahal, cita-cita anak di sekolah itu tidak beda dengan anak-anak lain. Ada yang ingin jadi dokter, pilot, atau pemain sepak bola. Untuk mengatasi hal itu, Cathy dan Polly secara berkala memberikan pengertian kepada para orang tua siswa. Cathy bersikeras, “Anak pemulung mesti sekolah!”

Beda lagi dengan siswa Kejar paket. Mereka lebih realistis. Mereka ingin ijazah agar tidak selamanya jadi pemulung. Harapannya, usai lulus ujian negara, mereka bisa mencari kerja di pabrik-pabrik atau di tempat lain. Para peremuan juga berharap banyak. Mereka ingin kelas keterampilan supaya pandai memasak atau menjahit. Sejauh ini, Cathy dan Polly hanya bisa meminta mereka bersabar. Bagaimana pun, semua butuh perencanaan dan dana. Dan itu adalah tantangan ketiga.

Buku, seragam, sarana dan pra sarana di sekolah AOC-IPI merupakan hasil sumbangan orang-orang. Cathy mengatakan bahwa sekolah itu terbuka bagi siapa pun yang tergerak memberikan bantuan. “Manusia hidup memanusiakan manusia,” begitulah pepatah yang ia hayati.покрывало Chevroletмаркетинговые агентства

Leave a Reply

comment-avatar

*