Nena Rosier Tidak Ingin Anaknya Menjadi Pemain Film

Nena Rosier Tidak Ingin Anaknya Menjadi Pemain Film

Nena Rosier Tidak Ingin Anaknya Menjadi Pemain Film

Nena Rosier

Nena Rosier

“Tak ada titik klimaks dalam akting.” Begitu Nena Rosier (38). Tantangan ini yang membuat perempuan yang mengawali karier di film layar lebar era 80-an ini sangat mencintai akting. Tapi, sebagai ibu, ia tak ingin anaknya mengikuti jejaknya di dunia seni peran. Kenapa? 

MAIN DRAMA
DI RUMAH 

KLIK - DetailAku mengawali karier sebagai bintang film layar lebar. Aku pernah main film bersama Tuty Indra Malaon, Rima Melati, dan bintang senior lainnya. Diam-diam, aku juga menyerap ilmu dari rekan sebaya dan para senior. Ya, aku termasuk aktris lama.

Sebenarnya aku terjun ke dunia hiburan sejak kanak-kanak. Aku suka mengajak teman-teman ngumpul di rumahku untuk main drama. Modelling kujalani sejak SMP. Aku banyak difoto untuk sampul majalah wanita. Dulu, jarang ada pemilihan model, jika ada yang mengajak foto, aku terima. Begitupun dengan akting. Awalnya aku ditawari seorang produser film yang mencari gadis-gadis Bandung untuk main film. Waktu itu aku terima tapi enggak terpikir bakal serius di dunia ini.

Karena semakin aktif di dunia model dan akting, aku sempat pindah ke Jakarta dan bersekolah di sana. Waktu itu aku kelas 3 SMA. Aku hijrah tanpa ditemani orang tua, mencoba hidup mandiri. Tapi kemudian aku memilih kembali lagi ke Bandung. Sulit bagiku meninggalkan Bandung. Mungkin karena aku lahir dan dibesarkan di sana. Aku menjalani pendidikan di SD Sejahtera, SMPN 2, dan SMAN 5 Bandung.

Aku lahir pada 24 November 1965 sebagai bungsu dari 2 bersaudara. Waktu lahir, orang tuaku, Berian Rosier, SH dan Milena Benak memberiku nama Shezana Rosier. Tapi, sejak menikah dengan drs. HA. Halim Kadir, namaku menjadi Shezana R. Halim. Asing ya kedengarannya? Ayahku asli Lampung, sedangkan Ibu dari Yugoslavia. Suamiku campuran Sunda dan Arab. Bisa terbayang, kan, anak-anakku berdarah campuran dari berbagai suku.

PERAN BAIK DAN JAHAT
Jovanka, Permata Hati, Perisai Kasih, Padamu Kubersimpuh, Cewekku Jutek adalah beberapa yang sinetron yang kumainkan. Sekarang aku juga sedang main dalam Takdir dan Cinta untuk bulan Ramadhan. Nanti juga akan main di sinetron Dia, juga Semau Gue, produksi Prima Entertainment. Aku sedang banyak job sekarang..ha..ha….

KLIK - DetailKarakter yang kumainkan beragam. Ada yang baik dan jahat. Produser tidak pernah memberiku karakter yang itu-itu saja. Hampir semua karakter pernah kuperankan. Padahal aku tidak punya dasar pendidikan akting sama sekali, lho. Tapi aku suka memperhatikan perilaku orang. Akting, kan, tidak pernah jauh dari kehidupan sehari-hari. Kalau ada yang bertanya karakter apa yang paling menarik untukku, aku jawab: “Semua”. Aku tidak bisa menentukan, karena tiap karakter punya ciri khas.

Saat ini belum ada tawaran untuk kembali ke dunia layar lebar. Kalau ada tawaran pun, mungkin kutolak. Karena aku sudah pernah merasakan main film layar lebar. Film layar lebar dulu dan sekarang berbeda, lho. Persiapannya lebih banyak. Selain itu, dulu tidak ada monitor untuk melihat akting pemain saat pengambilan gambar. Kami harus menunggu film diproses dulu. Ini menuntut pemain berakting sempurna. Kalau sekarang, bisa langsung terlihat jika ada yang tidak sempurna. Bukannya aku sekarang tidak rindu pada dunia layar lebar, tapi aku anggap semua akting sama seriusnya. Bukan karena aku pilih main sinetron, lantas aktingnya asal saja.

KLIK - DetailAku paham akting, bagaimana kita harus tertawa, menangis, sedih, gembira. Selain dari buku, aku juga belajar dari film asing. Tentunya aku tidak menelan mentah-mentah akting di film asing. Produksi film di Indonesia dengan luar negeri, kan, beda. Di luar lebih berani bereksperimen, dan tanggapan penontonnya pun sangat profesional. Di Indonesia, dengan usiaku sekarang, paling peran yang dimainkan hanya seputar jadi ibu. Pakaiannya pun model ibu-ibu. Jarang ada yang memakai celana jeans atau t-shirt, yang terkesan dinamis.

Namun, aku tidak terlalu selektif memilih peran. Aku bukan orang yang idealis, karena buatku akting menyenangkan. Apa pun perannya, aku harus mengolahnya dengan baik. Peran yang tidak menarik pun harus kuusahakan menarik. Aku menikmati peran-peranku, meskipun terbatas pada peran ibu-ibu. Tapi tidak apa-apa, yang penting berakting dengan baik dan membuat penonton puas. Tidak ada titik klimaks dalam akting. Sampai kapan pun aku belajar tentang akting.стилусмосква деревянная посуда

Leave a Reply

comment-avatar

*